How It Should be?

8:48 PM

Kali ini, aku mau bicara soal Islam. Bukan apa-apa. Hanya opini.
Malam ini, baru saja menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia yang berhubungan dengan cerpen. dan kebetulan cerpen yang aku pakai untuk tugas ini adalah cerpen dengan nuansa Islami.
Penulisnya bukan orang besar. Mungkin masih muda.

Di dalamnya ada satu cerpen yang ceritanya menggantung dan menggalaukan.
Isinya tentang persahabatan dan mahram.
Ceritanya ada seorang perempuan yang bersahabat dengan seorang laki-laki. Lalu, perempuan itu memutuskan untuk bergabung di organisasi remaja masjid dan mendadak berubah menjadi lebih alim. Sampai akhirnya, perempuan itu sadar akan batas-batas dalam Islam. Yaitu, batas-batas antara laki-laki dan perempuan sekalipun itu sahabat.

Dalam batin perempuan itu seperti ada perang. Betapa tidak? Ia semakin jauh dari sahabatnya itu. Dan buruknya, sahabatnya menjadi bengal. Laki-laki itu kembali menjadi perokok dan hidupnya berantakan. Anehnya, senior perempuan itu dalam organisasi melarang perempuan itu mengarahkan sang sahabat yang tersesat. Lagi-lagi, mahram masalahnya.

Bukannya mengesampingkan. Tapi, ini konteksnya berbeda. Apa benar kita, sahabat membiarkan sahabat kita tersesat? Apa benar kita, pergi ke jalan yang benar sendirian dan tidak memberitahu sahabat kita bila dia melewati jalan yang salah. Keluar dari konteks mahram. Kita mengajak orang yang semahram dan mengarahkan sahabat kita untuk kembali kan tidak apa-apa?

Apalagi dalam cerpen ini, diceritakan si laki-laki menjadi frustasi dan akhirnya meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan menuju rumah si perempuan untuk menanyakan apa kesalahan yang ia perbuat sampai-sampai si perempuan menjauhi dia tanpa alasan.

Meninggalkan orang yang tersesat dan berjalan sesuai peta sendirian hanya karena masalah mahram. Benar atau salah?
Entahlah, aku pun bukan orang pandai, bukan kyai. Aku manusia biasa yang tidak tahu apa-apa dan sekedar ingin bertanya untuk mengetahui kepastian.

You Might Also Like

0 comments

VISIT MY SHOP

PART OF